Selasa, 14 September 2010

Lebaran 1431 H

Ngumpulin aneka ucapan lebaran dari temen-temen buat kenang-kenangan :





Jalan ke taman dengan sang pangeran
Idul fitri telah tiba, salah dan khilaf mohon dimaafkan


Putih melati indah berseri
Cermin hati di hari yang suci
SMS tersaji pengganti diri
Penyambung silaturahmi di hari yang fitri


Kecubung batu dari kalimantan
Cantik disanding dengan berlian
Berhubung besok hari lebaran
Salah dan khilaf mohon dimaafkan


Andai jemari tak sempat berjabat
Andai raga tak sempat bertatap
Kata ditulis pengganti diri
Mohon maaf lahir dan batin


Di tengah gema takbir
hati tertunduk penuh haru
Ijinkan untuk memohon maaf
dari lisan yang tak terjaga,
janji yang terabaikan,
tingkah laku yang tak berkenan,
serta hati yang berprasangka


Satu ucapan kadang membuat kesalahan
Satu perbuatan kadang mengakibatkan pertengkaran
Tapi satu kata maaf semoga menghapus segala dosa.
Perkataan paling berbobot adalah ALLAH
Lagu termerdu adalah ADZAN
Buku terbaik adalah AL-QUR'AN
Senam paling sehat adalah SHALAT
Kebersihan paling menyegarkan adalah WUDLU
Perjalanan terindah adalah HAJI
Khayalan paling mengesankan adalah INGAT AKAN DOSA
Diet paling sempurna adalah PUASA
Ramadan sudah di penghujung
Pertanda hari kemenangan akan tiba
Banyak tingkah & laku kita buat
Di hari & bulan baik ini kita saling bermaafan

Ada langkah membekas lara
Ada kata merangkai dusta
Ada sikap menoreh luka
Dibulan penuh ampunan ini
kami ucapkan mohon maaf lahir batin


Melati semerbak harum mewangi
Sebagai penghias di hari fitri
Ulurkan tangan silaturahmi
Selamat idul fitri


Bapak ibu ingkang minulya
Awit gesang puniko hanamung titah sawantah
mboten prayogi menawi wonten congkrah
Raos serik kedah katampik
Raos dendam kedah kabucal
Raos mangkel kedah kapunggel
Ingkang wonten hanamung raos tresno lan asih
Pramilo puniko kulo sak kulowargo
angaturaken sugeng riyadi
nyuwun sakgunging samodra pangaksami.


Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Hidup ini terasa indah jika ada maaf


Rinenggo suminaring surya wayah ratri
cinondro resik ing wardoyo
Angaturaken sugeng riyadi idul fitri
Sedoyo lepat nyuwun sak gunging pangaksomo

Sabtu, 20 Maret 2010

Bekal Hidup


Sering orang bertanya untuk apa kita hidup. Banyak orang bertanya bagaimana kita hidup. Padahal ibarat mobil yang dibuat pabrik, jelas tujuannya, buku petunjuk pengoperasiannya pun disediakan pula oleh si pembuatnya. Begitu pula kita manusia, telah jelas tujuan penciptaan kita, sudah jelas pula petunjuk menjalankannya.

Kita diciptakan untuk beribadah. Ini sesuai dengan firman Allah “Tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKU”. Petunjuknya jelas berupa Al Qur’an dan Hadits. Contohnya pun jelas yaitu Rasulullah SAW. “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik”. Sifat Rasulullah yang harus kita teladani adalah Sidiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya, bertanggung jawab), Tabligh (menyampaikan, mengajarkan) dan Fathonah (pintar, cerdas, tidak pernah berhenti untuk belajar).

Dalam surah Al Ashr, kita dapat 4 petunjuk agar hidup kita tenang, aman, bahagia, selamat dan terhindar dari ketakutan dan kekhawatiran. Pertama adalah beriman. Kita harus yakin akan ketentuan Allah dan menggantungkan segala sesuatunya hanya kepada Allah. Prinsip dalam melakukan sesuatu harus dengan DUIT. Do’a (selalu melibatkan Allah sejak awal), Usaha (karena ihtiar itu hukumnya wajib, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau merubahnya dirinya sendiri), Istiqomah (tetap bersemangat, tidak mudah berputus asa dan selalu berprasangka baik atas ketentuan Allah) dan Tawakal (yakin akan ketentuan Allah dan menyerahkan segala hasil dari upaya kita pada ketentuan Allah).

Petunjuk kedua adalah kita harus beramal sholeh dan mengajak berbuat baik dengan mulai mengajak diri sendiri. Rasulullah pun mengajarkan shalat dengan mengerjakan shalat bukan memerintahkan. ”Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat” sabda Rasulullah. Selanjutnya adalah mengajak dan menyampaikann kebenaran. Jangan sampai membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Jika sudah banyak yang menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah berarti itu tanda kiamat sudah dekat. Kebenaran itu dari Allah dan kebenaran itu hanya satu.

Petunjuk selanjutnya adalah saling mengajak dalam kesabaran. Apapun kondisi kita, kaya, miskin, lapang, sempit, sehat, sakit, kita harus tetap istiqomah dan berprasangka baik akan ketentuan Allah. Kesabaran bukan hanya kepasrahan, tetapi tetap harus didahului dengan ihtiar yang sungguh-sungguh dan menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah. Jika merasa gagal, tidak menyalahkan Allah dan jika merasa berhasil tidak melupakan syukur kepada Allah. Allah memberi yang kita butuhkan, walaupun kadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. .... disarikan dari beberapa ceramah antara lain dari Ustadz Roja, dan khotbah jum’at H. Muazim Syair.

Senin, 14 Desember 2009

Sedekah berhadiah rumah

Sampai akhir tahun 2007, gak pernah kepikir dibenakku untuk punya rumah di Palembang. Aku masih pengin balik ke Jogja dan tinggal di sana. Jadi rumah yang aku pikirin adalah yang di Jogja. Padahal entah kapan aku bisa tinggal di sana. Kebetulan selama ini, aku juga dimanjakan oleh harga kontrakan rumah yang super murah dibanding harga pasaran. Dengan 4,5 juta per tahun, aku dapatkan kontrakan rumah yang besar, kalo dipasaran mungkin sekitar 15 juta per tahun.
Bulan Desember 2007, seminggu sebelum kontrakan habis, pemilik rumah datang dan mengatakan kontrakan tidak dapat diperpanjang lagi karena akan ditempati oleh anaknya yang telah kembali dari Jakarta. Wow.... persiapan duit hanya 5 juta ...... aku harus pergi ke luar kota selama seminggu, yang berarti sekembalinya dari luar kota harus sudah ada tempat baru .... Wow..... duitnya????
Istriku yang aku percaya untuk mencari tempat baru, ternyata tidak menemukan rumah kontrakan di dekat tempat tinggal kami. Istriku memang tidak mau pindah jauh karena merasa sudah menyatu dengan lingkungan masyarakat sekitar. Rumah yang dikontrakkan tidak ada, yang ada rumah di jual dengan harga 150 juta itupun dengan kondisi kita harus buat dapur sendiri, buat kamar mandi sendiri dan buat teras dulu sebelum bisa ditempati berarti butuh waktu dan butuh anggaran.
Alhamdulillah, sepulang dari luar kota aku temui pemilik rumah dan masih mengijinkan tinggal selama 2 bulan. Waktu dua bulan aku gunakan untuk cari pinjaman (ke bank sangat lancar dapat 100 juta dengan cicilan separoh gaji, ke Saudara dapat 10 Juta dan nutup asuransi dapat 15 juta). Total 125 juta jadi kurang 25 juta plus kurang biaya buat dapur, kamar mandi dan teras.
Alhamdulillah pemilik rumah yang mau aku beli mau menerima bayaran 110 juta dulu dan 40 juta dicicil (jadi mencicil juga ..... jatah dapur masih ada gak yach?). Nekat aja, aku bikin kamar mandi doang... rumah langsung aku tempati dengan resiko kalo hujan air masuk dan masak di tempat darurat.
Alhamdulillah, bulan kelima angsuran utang, gajiku naik dan menutup sepertiga cicilan. Dan semua proses ini kami rasakan lancar dan tidak mengganggu keseharian. Dapur masih ngebul, anak masih senang dan bisa main bahkan ditempat baru ini semakin banyak teman. Alhamdulillah. Ini pasti pertolongan Allah. Aku memang berusaha membiasakan diri untuk bersedekah walaupun tidak besar dan hanya melalui kotak amal yang lewat didepanku. Aku yang gak pernah berpikir punya rumah, dapat memiliki rumah disaat aku gak punya uang sama sekali. Alhamdulillah.

Shalawat bikin aku nggak kena razia

Tahun 1998, aku mulai tugas di Palembang. Sepeda motor, satu-satunya kendaraan yang aku miliki aku kirim aja ke Palembang. Surat motor hanya kopian, karena aku pengin mutasikan motorku, tapi aku sampai hari itu berkas dari Klaten belum datang.
Aku berusaha terus mengamalkan bacaan shalawat setiap dalam perjalanan. Suatu hari aku harus pulang tengah malam karena pekerjaan. Dalam perjalanan ada razia kendaraan. Akupun distop, dan ditanya surat-surat. SIM-ku Bandung, STNK-ku Klaten (kopian lagi tanpa cap apapun), KTP-ku Palembang. Alhamdulillah aku hanya disuruh melanjutkan perjalanan saja.
Yang kedua, saat aku bersama istriku jalan-jalan pakai motor bersama anakku. Pas ada razia kendaraan, kebetulan anakku tidur pulas dalam pangkuan istri. Saat distop, pak Polisi tidak nanya surat-surat, atau nanya istri koq gak pakai helm. Pertanyaan polisi "anaknya sakit Pak?". Aku jawab sekenanya "Ya..." ehh ternyata aku disuruh melanjutkan perjalanan.
Yang ketiga, waktu itu lagi musim razia kendaraan. Di tempat razia aku distop oleh polisi yang paling depan..... dan disuruh melanjutkan perjalanan oleh polisi dibelakangnya tanpa ditanya apapun.
Alhamdulillah ternyata bacaan shalawat bikin perjalanan lancar.

Shalawat bikin perjalanku lancar

Waktu itu sekitar tahun 1994, aku dapat tugas untuk mengikuti workshop di Magelang, tepatnya di daerah Taman Kyai Langgeng. Selama ini aku gak pernah tahu tentang kota magelang karena memang belum pernah masuk kota Magelang. Selama ini aku hanya selalu membaca shalawat setiap dalam perjalanan, baik di motor, di bus, dalam pesawat atau dimanapun jika dalam perjalanan.
Setelah mendarat di Jogja aku naik angkutan menuju terminal terban. Dari terban aku pengin naik taksi saja ke Magelang karena tidak tahu alamatnya. Tapi tukang becak menawari aku untuk mengantar sampai ke pemberhentian bis tujuan Magelang. Aku ngikut aja. Jadilah aku naik bus menuju Magelang dengan tetap membaca shalawat.
Peristiwa yang tidak aku mengerti dimulai dari dalam bus ini. Kondektur tidak mau aku bayar, padahal aku juga nggak kenal sama kondektur ini. Bahkan waktu turun dari bus, aku dicarikan angkot yang menuju ke Taman Kyai Langgeng. Lagi-lagi si sopir angkot pun tidak mau menerima bayaran dariku. Aku nggak kenal, karena baru kali itu aku menginjakkan kaki di Magelang. Lebih bingung lagi aku dicarikan ojek oleh sopir angkot menuju hotel tempat aku menginap. Lebih heran lagi si tukang ojekpun tidak mau aku bayar. Peristiwa itu sudah berlangsung 15 tahun yang lalu, namun sampai hari ini aku masih nggak ngerti kenapa pak kondektur, pak sopir angkot dan mas tukang ojek nggak mau terima bayaran dari aku. Padahal aku nggak kenal mereka. Tapi bagaimanapun, aku ucapkan terima kasih padamu ya Pak Sopir, Pak Kondektur dan Mas Tukang Ojek atas bantuannya. Semoga hal tersebut menambah nilai ibadah bapak dalam timbangan Allah SWT.

Shalawat bikin aku mudah ikuti seleksi

Membaca shalawat nabi, ternyata membawa berkah buatku. Pengalaman ini sekitar tahun 1987, saat aku mencari pekerjaan. Aku dinasihati oleh seorang kyai untuk menjaga sholat dan berusaha selalu menjaga shalawat saat dalam perjalanan menuju tempat seleksi. Alhamdulillah, semua aku praktekkan, aku baca shalawat saat jalan kaki, di atas bis, diatas angkot sampai saat menunggu giliran jika tidak ada teman ngobrol. Dan Alhamdulillah semua lancar, aku ikuti test dengan kondisi yang sangat santai dan tenang, bahkan aku merasa begitu mudah dan proses seleksi berjalan begitu cepat. Padahal aku lihat teman-teman yang lain pada tegang, keluar ruang wawancara dengan baju basah karena keringat, dan waktu wawancara yang rata-rata lama. Tetapi aku hanya menjawab satu pertanyaan yang diberikan penguji. Dan Alhamdulillah aku lulus seleksi dan dapat bekerja nyaman sampai hari ini.

Kamis, 30 April 2009

Anugrah.....

Rabu, 29 April 2009, sehari penuh aku merasakan anugrah kesenangan. Bangun pagi subuh sudah bisa menikmati harumnya kopi semendo seduhan istri tercinta. Sebelum shalat subuh sudah dijemput ojek untuk berangkat ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, dan shalat subuh pun dilakukan diperjalanan menuju Bandara. Check-in nggak pakai nunggu, langsung bisa boarding menuju Jakarta. Tiba di jakarta jam 07.00 pagi. Lanjut ke Gambir dengan taksi Pak Suyadi, jam 08.00 sampai tujuan sarapan pagi dengan teh hangat. Ketemu kawan lama, ngobrol ngalor ngidul, ngetan bali ngulon. Siang jam 11.30 jalan kaki menuju stasiun kereta Gambir, shalat dzuhur, sekaligus ashar di Masjid stasiun gambir, lanjut dengan bus ke bandara Sukarno Hatta. Jam 14.00 sampai langsung menikmati pisang goreng di Singgalang, kembali ketemu kawan lama. Kembali ngobrol ngalor ngidul ngetan bali ngulon. Sore jam 17.30 terbang kembali ke Palembang dengan disuguhi sunset dari jendela pesawat. Suasana sunset bagaikan kita berada dalam selimut abu-abu dengan lobang merah jingga matahari terbenam. Indah, sayang gak sempat diabadikan.
Dari perjalanan menuju Jakarta dengerin obrolan orang, dapat satu masukan "Kalo mau jadi orang kaya, jangan lakukan dengan mengurangi pengeluaran, tapi lakukan dengan meningkatkan pendapatan".
Dari obrolan di stasiun gambir dapat satu point "Semua orang memiliki waktu yang sama dalam sehari, sama dengan yang dimiliki oleh orang yang sukses, dan sama pula dengan yang dimiliki oleh orang yang gagal. Yang membedakan adalah dalam hal kita memanfaatkan waktu tersebut"
Dari perjalanan kembali menuju Palembang dapat satu poin lagi "Untuk menggapai keberhasilan hanya butuh satu kali usaha lebih banyak dibanding usaha yang telah dilakukan namun belum mendapatkan keberhasilan. Dari kata-kata orang top bahwa kita hanya punya pilihan yaitu "give up" atau "one more try". Dan orang yang berhasil akan memilih "never give up" dan "one more try" untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Ingat "hasil yang lebih baik" bukan "keberhasilan", karena dengan menggunakan "keberhasilan" maka proses akan terhenti, tapi dengan kalimat "hasil yang lebih baik" maka berarti masih ada kelanjutan. Continuous Improvement.

Senin, 02 Maret 2009

Biography 08


Indahnya Bali


Selesai sekolah aku ditempatkan di Bali. Setelah 8 hari liburan, aku berangkat ke Bali menggunakan bus dari Jogja. Kebetulan di bus juga ketemu kawan satu angkatan yang sama-sama penempatan di Bali. Untung, karena dia punya saudara di Bali, kalo gak mungkin kejadian di Semarang terulang lagi……..

Dalam perjalanan ke Bali, ada sesama penumpang yang sangat ramah, banyak cerita tentang Bali, karena memang dia orang Bali. Badannya penuh tato, yang menjadikan kami berdua ketakutan karena image orang bertato dulu adalah “gali” alias preman. Jadi walaupun dia banyak cerita kami berdua diam saja nggak banyak komentar. Apalagi waktu turun dari bus di terminal Ubung, dia langsung bilang “Tenang aja, di sini kakakku yang berkuasa…..” wah bener nich preman… pikir kami.

Berdelapan kami runtang-runtung cari kontrakan atau kost-kostan, sampai menjelang maghrib belum dapat. Pas mau pulang, kami berdelapan disamperin cewek naik motor menawarkan rumahnya yang belum selesai untuk digunakan sementara. Wow…. Rejeki benar dari cewek ini …. Mira Cindarbumi namanya. Bukan hanya itu, malam itu Mira juga langsung ajakik kita untuk keliling Denpasar. Dan esoknya kami berdelapan plus kawan-kawan Mira berdelapan juga naik motork keliling Denpasar, Sanur dan Kuta. Baru saat itu kami mengerti ternyata orang Bali seneng bertato dan tatonya pun seluruh tubuh. Sorry kawan…. tadinya aku kira hanya preman yang bertato. Dan ternyata orang Bali memang cocok jadi guide wisata, karena sepanjang perjalanan mereka terus-terusan cerita tentang objek wisata yang kita kunjungi.

Malamnya, yang kebetulan waktu itu sedang ada even PKB (Pesta Kesenian Bali), kami pun di ajak nontong Drama Gong di art centre. Aku duduk paling depan, tapi karena aku gak ngerti ceritanya yaaa plingak-plinguk, yang penting kalo orang tertawa aku ikut aja tertawa…..mbuh.

Banyak kawan di Bali. Inoel longor (bukan Inoel ngebor) yang suka tertawa kayak Burisrowo. Mr. SIR yang jago komputer dan jadi temen nonton musik dan minum, Mr. AF yang jago ngelobi, Nona LH yang menemaniku terus, makasih yach jadi semangat…..walau akhirnya ngilang gak ketemu lagi, Mr. PS yang jago main gitar dan jago ngeyel, wah banyak dan masing-masing punya ciri khas. Banyak cerita lucu, apalagi di kost-kostan oom Wakaf di Ceroring itu….. woow gak tega mau cerita …..

Jumat, 16 Januari 2009

IBO NetRe Sumbagsel Januari 2008


Kegiatan IBO (Iman-Budaya-Olah Raga) bulan Januari 2009 diisi Siraman rohani Islam yang diampaikan oleh Ustadz Hidayatullah dari IAIN Raden Fatah Palembang pada Kamis ba’da Ashar mengambil tema ”Dengan Tahun Baru Kita Tingkatkan Performansi Kerja”. Kegiatan yang dilakukan di mushala lantai tiga gedung NetRe ini diikuti oleh seluruh karyawan kantor NetRe Sumbagsel.

Tahun baru Islam dimulai dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Dan saat Nabi kembali menundukkan mekah dengan tanpa tetesan darah, Nabi bersabda ”Tidak ada lagi hijrah setelah aku taklukkan Mekah”. Ini berarti makna Hijrah secara khusus hanya terjadi sekali yaitu pada jaman Nabi. Namun secara umum Hijrah adalah Hijaratul Qulub Wal Jawal, hijrahnya hati dan anggota badan. Ini yang harus dilakukan manusia setiap saat. Yaitu Hijrah dari kegelapan menuju cahaya islam, hijrah dari kemaksiatan menuju kebaikan, hijrah dari kesesatan menuju hidayah.

Ustadz Hidyatullah menyampaikan bahwa pada awal penentuan tahun Islam banyak pendapat untuk dijadikan pedoman, di antaranya adalah peristiwa lahirnya Nabi, peristiwa wafatnya nabi dan peristiwa penerimaan wahyu pertama oleh nabi. Namun hal itu tidak disepakati untuk dijadikan pedoman, karena dengan menggunakan peristiwa tersebut ada kecenderungan untuk mengkultuskan nabi. Maka diambil kesepakatan bahwa tahun baru Islam diawali dari peristiwa hijrahnya nabi dari Mekah menuju Madinah.

Selain mengulas sejarah tahun baru Islam, Ustadz Hidayatullah juga menyampaikan hal-hal yang harus kita lakukan menyambut tahun baru 1430 H. Yaitu dengan muhasabah (introspeksi diri) bagaimana kehidupan kita di tahun 1429 H dan kita tingkatkan untuk menjadi lebih baik di tahun 1430. Dengan pergantian tahun ini maka berarti jarak kita dengan ajal kian mendekat, maka sudah sepantasnyalah kita semakin meningkatkan iman dan taqwa kita dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Selain muhasabah, tahun baru juga bermakna peningkatan ukhuwah. Hal ini melihat dari peristiwa hijrah nabi yang mempersatukan kaum muhajirin dengan kaum anshor. Dari ukhuwah ini akan terbangun masyarakat madani dengan melaksanakan sabda nabi SAW saat menginjakkan kaki di Madinah, yaitu tebarkan salam, beri makan orang yang lapar, jalin silaturahim dan bangunlah di dua pertiga malam.

Perintah tebarkan salam berarti tebarkan keselamatan, jadikan diri kita bermanfaat bagi lingkungan kita, biarlah waktu lahir kita menangis dan orang lain tertawa, namun pada saat kita mati, kita yang tertawa dan orang lain menangis. Salam adalah ciri seorang muslim, sudahkah kita memberi salam saat bertemu dan saat berpisah dengan saudara kita sesama muslim? Sudahkah kita bangga dan berani mengatakan bahwa ”Saya seorang muslim”? Kita patut prihatin bahwa kita masih kurang ”ngeh” dengan Islam, malu menunjukkan atribut Islam. Kita masih sering mengikuti gaya dari kaum lain seperti hura-hura menyambut tahun baru miladiyah, tetapi adem ayem bahkan tidak tahu ada tahun baru Hijriyah. Padahal nabi bersabda bahwa barang siapa mengikuti suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut.

Perintah memberi makan orang yang lapar mengajarkan kita untuk peduli. Sebenarnya rezeki yang kita miliki adalah yang kita makan dan yang kita sedekahkan. Sedangkan harta yang menumpuk dirumah, direkening atau dimanapun, itu hanyalah sekedar amanah atau titipan yang harus kita jaga, sewaktu-waktu bisa diambil dengan cara apapun dan dengan cara yang bagaimanapun oleh pemiliknya yaitu Allah SWT. Jika dihadapan kita ada orang yang meminta-minta, seharusnya kita bersyukur karena mereka meminta yang yang menjadi hak mereka. Dari rezeki yang kita terima, sebenarnya ada bagian yang menjadi hak kaum miskin dan duafa.

Perintah menjalin silaturahmi mengajarkan kita untuk hidup rukun dan sejajar. Jangan sombong merasa diri lebih baik, lebih hebat dan lebih benar dari yang lain karena sikap tersebut dan kata-kata ”ana khoiru minhu” merupakan sikap dan kata-kata iblis saat disuruh sujud kepada Adam AS. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Sedangkan perintah untuk bangun di dua pertiga malam mengajarkan kita untuk memiliki kekuatan ruhiyah yang kuat, sesuai janji Allah bahwa shalat tahajud akan mengangkat kita menuju tempat yang mulia (maqamammahmudah). Dari empat perintah nabi tersebut, tiga menyangkut hablum minannas dan satu menyangkut hablum minallah.

Maaf, jika ada yang salah, ini hanya berdasarkan ingatan semata, tanpa catatan sebagai referensi.

Rabu, 26 November 2008

Panggilan


Didunia hukum kriminal, jika seorang jadi saksi ataupun tersangka suatu perkara, biasanya orang tersebut mendapat surat panggilan dari kepolisian atau kejaksaan. Surat panggilan pertama, jika tidak diindahkan akan dilakukan pemanggilan kedua dan jika masih tidak dihiraukan maka akan dijemput paksa. Jika sampai terjadi jemput paksa, maka ketidakhadiran saat pemanggilan pertama dan kedua pastilah akan menjadi hal yang memberatkan hukuman bagi si itu orang.

Dalam hidup kita sering dipanggil untuk menghadap Allah. Panggilan pertama berupa suara azan yang menandakan bahwa sudah waktunya kita menghadap Allah. Sudahkah kita penuhi panggilan pertama tersebut. Panggilan pertama ini panggilan yang paling ringan kita kerjakan, tidak butuh materi, tidak butuh energi banyak dan juga tidak butuh waktu banyak. Hanya butuh niat dan keikhlasan kita untuk beribadah sesuai fitrah penciptaan manusia ditambah ilmu beribadah.

Panggilan kedua adalah panggilan untuk berhaji di tanah suci. Ini perlu perjuangan yang lebih berat dibandingkan panggilan yang pertama. Butuh materi, tenaga fisik, mental serta waktu yang yang lebih banyak selain ilmu yang juga harus dipersiapkan. Ini berat, karena ini gambaran kecil tentang kejadian pada panggilan berikutnya sebagai latihan.

Panggilan terakhir adalah jemput paksa. Jika panggilan pertama masih bisa diabaikan begitu juga dengan panggilan kedua masih juga bisa diabaikan. Tapi panggilan ketiga adalah jemput paksa, yaitu maut. Ini yang paling berat, karena ini kita sudah memasuki pengadilan yang sebenarnya. Kita juga tidak bisa melakukan jual beli hukum, karena semua bukti terpampang serta saksi yang hanya bisa berkata jujur. Jika panggilan pertama dan panggilan kedua kita abaikan, sudah pasti hal tersebut akan memperberat hukuman. Jadi apa kita masih mau mengabaikan panggilan dan menunggu jemput paksa? Mari kita perbanyak bukti yang meringankan serta saksi yang meringankan dengan do’a, sedekah, dan berbagai ibadah lain sesuai yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Ya Allah, Engkau yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia, jagalah hati hamba agar senantiasa dekat dengan-Mu. Amien.